Sabtu, 25 Februari 2017

Senja #1




Aku suka senja. Karena senja begitu jujur menampakkan perasaannya yang suci. Karena senja mampu menghadirkan lebih dari satu cerita dalam satu bingkainya. Karena senja dapat membawakan imaji bagi siapapun yang punya hati. Karena senja, dengan polosnya, mampu menghadirkan rindu yang tak mampu terucap.

Ah sebenernya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku resah akan melihat senja? Dan kenapa aku bahagia dalam waktu bersamaan saat melihat senja? Jawaban sebenarnya sederhana. Kata orang sih perasaanku ini karena memang sedang rindu, rindu terhadap sosok yang membuat salah satu anak manusia ini jatuh cinta. Apakah aku memang masih pantas mendapat roman picisan yang biasanya dirasakan oleh para remaja? Ah, pada faktanya sang virus merah jambu datang tak mengenal umur. Namun, alih-alih jatuh cinta, aku lebih suka menyebut ini jatuh hati. Kenapa? Pernah mendengarkan lagu Raisa-Jatuh Hati? Sedikit banyak lirik didalamnya adalah sebagai berikut:
Ada ruang hatiku, yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta, namun  aku jatuh hati
Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu
Ada ruang hatiku, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta, namun  aku jauh hati
Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu
Katanya cinta memng banyak bentuknya
Kutahu pasti, sungguh aku jatuh hati

Ah, hampir 95% persen lirik di lagu ini benar-benar menjelaskan semua. Aku yang selama ini begitu sulit membuka hati, akhirnya luluh juga olehnya. Benar bahwa aku sudah terpikat oleh bagaimana caranya bertutur, caranya memandang dunia, caranya memandang kehidupan, bagaimana bijaknya menghadapi setiap masalah, bagaimana anehnya dia menjadi manusia yang beda daripada umumnya. Benar juga bahwa aku sangat terinspirasi olehnya, apapun itu, dari banyak hal. Lalu 5% apa yang membuat aku tidak setuju dengan isi lirik ini? “Kutak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu”. Apa benar bahwa kita tak harus memiliki? Apa benar bahwa saat seseorang jatuh hati tak harus bisa berdampingan dengan saling memiliki? Rupanya pandanganku memang beda. Kenapa kita tidak memperjuangkan sampai dapat memiliki? Memang tak ada satupun manusia yang tahu akhirnya bagaiman, namun jika memang bisa diusahakan, ya jangan menyerah untuk bersama. Adakah manusia yang dapat menahan perih dan resah saat selalu dapat bersamanya, namun tak dapat memiliki? Bukankah itu sama dengn kamu mengekang erat tali di lehermu? Kalo begitu kenapa tidak memilih bebas saja? Ah, konsep pemikiran manusia memang berbeda satu dengan yang lain. Adapun aku, jika aku masih sanggup berjuang, aku akan berjuang. Entah jawaban akhirnya bagaimana. Yang kutahu aku, dan selebihnya dia sudah cukup dewasa dalam membawa perasaan ini. Menghargai setiap keputusan yang kemungkinan juga akn banyak merubah hidupku.

Ah senja, kenapa aku bercerita telalu jauh? Apa kaitannya cerita tadi denganmu? Apa kamu sebenarnya mau mendengarkan aku bercerita begini?

Ah senja, maafkan aku membuka prolog cerita yang agaknya akan panjang. Maafkan jika cerita ini tidak lebih menarik dari kisah insan lainnya. Aku hanya tak mampu membendung ceritany karena tak ada yang kuajak bercerita dengan benar-benar lega. Hanya bisumu yang tertangkap memang. Namun, fakta bahwa tiap melihatmu membuatku merindukan dia, mengenang cerita saat bersama dan romansa lainnya.

Tolong tetap menjadi senja yang selalu membuatku rindu, luluh dan menenangkan ya. Salamkan rinduku padanya, jika suatu saat dia juga memandangmu dengan rindu yang ditujukan entah kesiapa dan dibelahan bumi yang mana.

Yogyakarta, 25 Februari 2017
Dipublikasikan: Boyolali, 26 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar