Aku suka senja. Karena senja begitu jujur menampakkan
perasaannya yang suci. Karena senja mampu menghadirkan lebih dari satu cerita
dalam satu bingkainya. Karena senja dapat membawakan imaji bagi siapapun yang
punya hati. Karena senja, dengan polosnya, mampu menghadirkan rindu yang tak
mampu terucap.
Ah sebenernya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku resah
akan melihat senja? Dan kenapa aku bahagia dalam waktu bersamaan saat melihat
senja? Jawaban sebenarnya sederhana. Kata orang sih perasaanku ini karena
memang sedang rindu, rindu terhadap sosok yang membuat salah satu anak manusia
ini jatuh cinta. Apakah aku memang masih pantas mendapat roman picisan yang
biasanya dirasakan oleh para remaja? Ah, pada faktanya sang virus merah jambu datang
tak mengenal umur. Namun, alih-alih jatuh cinta, aku lebih suka menyebut ini
jatuh hati. Kenapa? Pernah mendengarkan lagu Raisa-Jatuh Hati? Sedikit banyak
lirik didalamnya adalah sebagai berikut:
Ada ruang hatiku, yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta, namun
aku jatuh hati
Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu
Ada ruang hatiku, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta, namun
aku jauh hati
Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu
Katanya cinta memng banyak bentuknya
Kutahu pasti, sungguh aku jatuh hati
Ah, hampir 95% persen lirik di lagu ini benar-benar
menjelaskan semua. Aku yang selama ini begitu sulit membuka hati, akhirnya
luluh juga olehnya. Benar bahwa aku sudah terpikat oleh bagaimana caranya
bertutur, caranya memandang dunia, caranya memandang kehidupan, bagaimana
bijaknya menghadapi setiap masalah, bagaimana anehnya dia menjadi manusia yang
beda daripada umumnya. Benar juga bahwa aku sangat terinspirasi olehnya, apapun
itu, dari banyak hal. Lalu 5% apa yang membuat aku tidak setuju dengan isi
lirik ini? “Kutak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu”. Apa
benar bahwa kita tak harus memiliki? Apa benar bahwa saat seseorang jatuh hati
tak harus bisa berdampingan dengan saling memiliki? Rupanya pandanganku memang
beda. Kenapa kita tidak memperjuangkan sampai dapat memiliki? Memang tak ada
satupun manusia yang tahu akhirnya bagaiman, namun jika memang bisa diusahakan,
ya jangan menyerah untuk bersama. Adakah manusia yang dapat menahan perih dan
resah saat selalu dapat bersamanya, namun tak dapat memiliki? Bukankah itu sama
dengn kamu mengekang erat tali di lehermu? Kalo begitu kenapa tidak memilih
bebas saja? Ah, konsep pemikiran manusia memang berbeda satu dengan yang lain.
Adapun aku, jika aku masih sanggup berjuang, aku akan berjuang. Entah jawaban
akhirnya bagaimana. Yang kutahu aku, dan selebihnya dia sudah cukup dewasa
dalam membawa perasaan ini. Menghargai setiap keputusan yang kemungkinan juga akn
banyak merubah hidupku.
Ah senja, kenapa aku bercerita telalu jauh? Apa kaitannya
cerita tadi denganmu? Apa kamu sebenarnya mau mendengarkan aku bercerita
begini?
Ah senja, maafkan aku membuka prolog cerita yang agaknya
akan panjang. Maafkan jika cerita ini tidak lebih menarik dari kisah insan
lainnya. Aku hanya tak mampu membendung ceritany karena tak ada yang kuajak
bercerita dengan benar-benar lega. Hanya bisumu yang tertangkap memang. Namun,
fakta bahwa tiap melihatmu membuatku merindukan dia, mengenang cerita saat
bersama dan romansa lainnya.
Tolong tetap menjadi senja yang selalu membuatku rindu,
luluh dan menenangkan ya. Salamkan rinduku padanya, jika suatu saat dia juga
memandangmu dengan rindu yang ditujukan entah kesiapa dan dibelahan bumi yang mana.
Yogyakarta, 25 Februari 2017
Dipublikasikan: Boyolali, 26 Februari 2017
Dipublikasikan: Boyolali, 26 Februari 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar